Menjadi Joki Skripsi? Salahkah?

Hello brot dan sis kembali lagi di Adink’s Story. Apa kabarnya? semoga baik-baik saja ya. Pada kesempatan kali ini gue mau membahas topik tentang “Joki Skripsi” yang akhir-akhir lagi HOT MOLOTOV diperbincangkan, baik di dalam maupun luar negeri dimulai dari berita blak-blakannya mahasiswa luar negeri mengenai joki skripsi sampai penghapusan video joki skripsi oleh youtube. Bagi pembaca yang saat ini masih sekolah atau kuliah mungkin tulisan gue kali ini akan sedikit membuka mata kalian terhadap salah satu sisi gelap dunia pendidikan kita saat ini. Well, jujur topik ini menarik dibahas karena selain sedang “rame” juga based on experience penulis sendiri, wah wah ngajarin kagak bener nih penulis, kata si pembaca dalam hati. Eitsss, jangan pada mikir jorok dulu elu pada, mending ngopi-ngopi bae sambil baca tulisan gue sampai beres, masa paragraf awal udah di protes -_-

Joki skripsi atau jasa pembuatan skripsi merupakan isu lama yang sulit diberantas dan seolah – olah sudah membudidaya sebagaimana halnya korupsi. Beberapa waktu lalu wacana penghapusan skripsi yang dilontarkan oleh Menristek Dikti M Nasir menarik ditanggapi. Adapun alasan penghapusan skripsi adalah maraknya praktik plagiasi dan joki skripsi. Plagiasi dan joki skripsi terjadi karena lemahnya kemampuan menulis mahasiswa. Alasannya ya mungkin karena tidak semua orang dilahirkan dengan bakat menulis. Kelemahan menulis mahasiswa terlihat saat membaca makalah karya mahasiswa, dari semester pertama bahkan saat mereka semester ketujuh yang kalau diberikan tugas kebanyakan dibikinin temen, copas internet atau kakak tingkat yang dulu pernah mengerjakan hal yang sama, apalagi kalau elu pada punya gebetan atau pacar satu tingkat lebih tua maka siap-siap aja elu jadi babu makalah.

Hal ini karena mahasiswa juga sudah terbiasa dengan ketidakjujuran. Mengklaim makalah dan skripsi sebagai karya sendiri, padahal mengunduh dari internet atau kerjaan orang lain. Kesibukan dan keterbatasan waktu dosen membuat praktik plagiasi di kalangan mahasiswa tidak terdeteksi. Jika dosen mengajar empat kelas dan setiap kelas ada 40 mahasiswa, maka ia harus memeriksa 160 makalah (minimal sekali) dalam satu semester. Berdasarkan hal tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa setiap universitas pasti terdapat joki makalah atau skripsi setiap angkatannya, biasanya orang-orang rajin yang dijadiin korbannya dan mereka mau aja karena dikasih duit, termasuk juga orderan untuk anak rantau yang apapun dilakukan untuk bisa beli ciken mekdi atau beli kopi di cafe gaul yang rasa kopinya gajauh beda sama kopi warung yang harganya serebumaratusan.

Mengingat tiap-tiap kelas di kampus/universitas ada pembantunya masing-masing, dan gue salah satunya mantan pembantu itu, apakah para pembaca ada yang senasib dengan penulis? tosss dulu dong. Nah, alasan gue mau membantu mengerjakan makalah atau skripsi mereka itu 80%-90% karena adanya “take and give” sih elu bayar gue kerjain! sisanya ya karena pacar/gebetan/, kalau temen biasa diskon 10%, mantan diskon 20%. Mohon pembaca bisa bedain mana serius mana becanda! Dan bagi kalian yang punya pacar khususnya cewek yang sering jadi “mesin ketik” buat ngerjain tugas cowoknya gue cuma mau bilang SYUKURIN!!, tapi gue juga menyarankan sering-sering kasih ceramah biar cowok elu bisa ngerjain sendiri! biasanya si cowok ini akan menggoda ceweknya buat bantu ngerjain tugas kuliahnya trus si cowok ngejanjiin akan ngajak jalan, makan atau nonton pelm dengan posisi duduk pojok atas kiri atau pojok atas kanan.

Si pengorder makalah atau skripsi ini biasanya mereka gamau tau pokonya sing penting beres jadi, nah ini nih yang gue sangat tidak suka, walaupun somehow mereka bayar tapi akan sangat mubazir kalau elu tidak ingin belajar atau minimal tau proses pengerjannya bijimane, karena ga akan ada makna baru dalam hidup lu, hampa aja gitu, menurut gue ya. Gue malah sangat rispek sama temen2 kuliah yang mau kerja kelompok dalam ngerjain skripsi, walaupun mereka ga bisa pengetikan, merangkai kata-kata yang ilmiah tapi setidaknya ada kemauan dan apabila tidak bisa mengetiknya pun akan gue bantu, GRATIS! karena disatu sisi gue juga menghargai usahanya, keinginannya dan kerja kerasnya. Daripada sama orang yang udah nyuruh ngerjain skripsi, orangnya nyolot kagak ada cuma ngasih kertas bimbingan apa aja yang musti direvisi, habis itu menghilang ditelan matahari, SAMPAH!! Padahal mah elu kagak tau sebenernya skripsi elu tuh hasil copasan internet juga hihihi, loh kok kasian dong? keluh si pembaca. Bodo amat skripsi nya aja udah kelar, sewot penulis dalam hati.

Joki skripsi atau jasa pembuatan skripsi menurut gue ada baiknya dan ada salahnya, walaupun tentu dari segi konteks pendidikan salah, karena dengan elu mengerjakan skripsi maka sebenarnya elu akan di tantang untuk bisa menulis sebuah karya tulis ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan berpikir analitis, so buat karir lu kedepannya pasti bermanfaat. Gue yakin 90% mahasiswa paling males mengerjakan skripsi itu di segi penulisan, bagaimana menentukan diksi kalimat yang tepat, footnote, referensi, urutan penulisan dll yang bikin pusing tujuh keliling.  Maka dari itu, si mahasiswa sableng ini karena gamau belajar entah ditunda-tunda atau deadline akan mengambil jalan pintas dengan bilang “Bro gue minta tolong kerjain skripsi gue dong, dikit lagi kok cuma bagian ini doang revisinya” dan si joki yang tiada lain tiada bukan adalah temennya sendiri itu menjawab “oke bro ini doang kan?” setelah berkas nya udah di tangan si joki, si mahasiswa sableng tiba-tiba nge chat lagi “Eh bro sekalian ya tambahin materi di BAB II yang mengenai xxx, kemudian referensi jurnal ditambah, sama analisa di BAB IV kata-katanya diperbaiki, tenang entar ada uang nya, santai!” gue pun cuma senyum aja menatap layar chattingannya sambil dalam hati berucap “sarap ni orang, enak banget hidupnya”.

Masa-masa joki skripsi pun akhirnya berhasil gue lalui tahun 2017 kemarin, bersamaan dengan para mahasiswa/i langganan yang juga berhasil lulus dengan karya tulisnya bikinan orang lain hmmm sarjana-sarjanaan. Gue ngerti sih banyak faktor yang menyebabkan orang terbesit untuk akhirnya menempuh jalan pintas dengan minta bantuan temannya buat jadi joki skripsi, selain hal yang telah disebutkan di paragrap sebelumnya,gue juga memaklumi bagi yang minta joki itu mahasiswa/i kelas karyawan yang mungkin sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktu untuk membuat skripsi sedikit, walaupun akan lebih HEBAT dan KEREN kalau multitasking dua-duanya dijabanin. Yang sungguh miris dan prihatin adalah mahasiswa/i kelas reguler yang notabene seumuran tapi malah ngambil jalan pintas minta bantuan joki, hellow mennn… lu masih muda, berpotensi, kaum yang katanya aset masa depan bangsa, masa aset bangsa yang kaya gini ibaratnya kalah sebelum berperang! dengan berbagai macam alasan seperti “gue kagak ngerti beginian”, “gue lelah”, “gue cape”, “gue pengen mati” blablabla. Satu hal yang pasti sih mereka KAGAK MAU BELAJAR! titik gapake koma.

Pada akhirnya, anomali semua ini adalah kenyataan yang musti kita terima. Joki skripsi sampai kapanpun akan selalu ada kecuali sistem syarat kelulusan sarjana dengan karya tulis ilmiah skripsi tidak menjadi patokan, melainkan hanya uji kompetensi saja. Susah sih sebagaimana menghilangkan total korupsi itu mustahil, tapi mencoba untuk menghilangkan sampai seminimal mungkin itu keharusan. Di dunia fana ini yin dan yang akan selalu ada, kebaikan dan kejahatan akan selalu berhubungan mengisi satu sama lain dan itu FAKTA!. Namun tentu yang harus kita lakukan sebagai manusia beradab dan berakal adalah mempunyai keinginan dan kekuatan untuk terus belajar segala hal apapun itu supaya anda dapat menjadi manusia yang bermakna, dan ingat ketika elu mencoba menyerahkan kewajiban lu dalam hal ini membuat skripsi ke para joki itu adalah pertanda awal bahwa elu sudah menutup diri dan tidak mau melangkah untuk belajar.

Sekian tulisan gue kali ini, jir gue nulis apaan dah perasaan kagak gol banget ke masalah “joki skripsi” dan paragrap yang di atas juga terkesan songong gue menceramahkan orang -__- padahal gue ga se “nice” itu, ya tidak apalah saling mengingatkan kan bagus, kata si penulis dalam hati. Oh ya perlu diingat bahwa tulisan ini murni hasil pemikiran dan pendapat penulis tanpa ada maksud untuk menggiring opini dan kalau ada pendapat lain atau ingin berkomentar silahkan we will discuss it Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan gue yang kurang penting ini dan tunggu tulisan-tulisan gue selanjutnya~

 

 

 

 

Author: Nugraha Adi Permana, S.H.

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: