Menjadi Seorang Introvert

Hello brot dan sis kembali lagi di Adink’s Story. Apa kabarnya? semoga baik-baik saja ya. Pada kesempatan kali ini gue mau sedikit sharing mengenai 1 (satu) topik yang senantiasa melekat pada diri seseorang yaitu mengenai kepribadian “introvert”. Karena seperti yang perlu kalian ketahui bahwa penulis ini sebetulnya adalah seorang “introvert” ngakunya sih iya coba deh tanyain! Walaupun begitu, mari coba kita ulik dan bedah lebih dalam lagi apa sih sebetulnya “introvert” itu? apakah jangan-jangan para pembaca tulisan ini adalah seorang introvert juga? atau belum sadar ?atau malah mencoba selalu menyembunyikan identitas diri aslinya? hmmm…. let’s see

Sebelum membahas introvert lebih dalam lagi alangkah baiknya kita membahas terlebih dahulu tipe-tipe kepribadian, sebagaimana dikutip dari wikipedia yang menyatakan bahwa Personality Continuum Scale menurut dokter psikologi dari Swiss, Carl Jung, terdapat 3 jenis kepribadian umum pada manusia, yaitu Introvert (Introversion), Ambievert (Ambiversion) dan Extrovert (Extraversion). Sedangkan di dalam psikologi, terdapat pengelompokkan kepribadian manusia bedasarkan bagaimana manusia memperoleh gairahnya. Pengelompokkan ini pertama kali dicetuskan oleh Carl Jung (1920), dalam bukunya berjudul Psychologische Typen. Secara umum, pribadi yang ekstrover mendapatkan gairah (atau energi) dari interaksi sosial. Ekstrovert biasanya memiliki kepribadian yang terbuka dan senang bergaul, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka. Sementara introvert, di sisi lain, dianggap mendapatkan gairah lewat menyendiri. Introvert, biasanya cenderung pendiam, suka merenung, dan lebih perduli tentang pemikiran mereka dalam dunia mereka sendiri. Di antara kecenderungan ekstrem introversi dan ekstroversi, terdapat ambiversi yang merupakan kepribadian penengah antara ekstrovert dan introvert. Meskipun terdapat perbedaan yang kontras antara introvert dan ekstrovert, Carl Jung menganggap bahwa jarang terdapat manusia yang sepenuhnya ekstrovert atau introvert. Ketiga kepribadian tersebut memiliki pandangan berbeda dalam hal pengambilan keputusan, interaksi sosial, respon terhadap masalah, komunikasi verbal dan non verbal, serta berbagai respon sosial lainnya.

Manusia dengan kepribadian introvert cenderung menutup diri dari dunia luar. Mereka analitis sebelum berbicara, merasa kurang nyaman karena terlalu banyak pertemuan dan keterlibatan sosial, lebih senang bekerja sendirian, serta lebih suka berinteraksi secara 1 on 1 interaction. Keunggulan dari tipe kepribadian ini adalah mereka berpikir dulu sebelum berbicara atau melakukan sesuatu, mereka adalah pendengar yang baik, dan bersikap analitis. Kebalikan dari introvert, kepribadian ekstrovert cenderung lebih membuka diri terhadap dunia luar. Mereka menyukai keramaian, dengan banyak interaksi dan aktivitas sosial. Tipe kepribadian ini lebih mudah mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, mudah bosan dengan kesendirian, dan lebih senang bercerita daripada mendengarkan. Keunggulan dari tipe ekstrovert adalah kepercayaan diri antusiasme yang tinggi, mudah bergaul, aktif, dan dapat berinteraksi dengan banyak orang sekaligus. Ambievert merupakan kepribadian gabungan antara introvert dan ekstrovert. Kelebihan dari tipe ini, mereka nyaman berada di tengah keramaian dan berbagai aktivitas sosial, tetapi juga rileks dengan kesendirian. Kekurangan dari kepribadian ambievert adalah mereka cenderung moody, karena sifat yang berubah-ubah.

Ekstrovert maupun introvert memiliki cara masing-masing dalam hal memproses informasi. Tipe ekstrovert lebih aktif dalam memulai percakapan, tetapi memerlukan waktu untuk eksplorasi secara lebih mendalam dan tak jarang mereka memiliki gagasan lebih baik tentang suatu hal. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepribadian manusia itu sangat kompleks. Mereka dibentuk dari pengalaman, sejarah pribadi, interaksi, dan budaya anda dibesarkan. Seorang introvert mendapat kekuatan dari ide dan refleksi batin, sedangkan ekstrovert melalui kegiatan eksternal. Kedua kepribadian ini memiliki kekuatannya masing-masing. Apapun kecenderungan seseorang, baik introvert maupun ekstrovert, jika ia mampu menerima diri sendiri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki, maka ia akan bertumbuh menjadi pribadi yang baik.

Gue kira cukup untuk teori-teori nya, gue harap elu pada ngerti dan kalau kurang paham coba search aja di google banyak yang udah share artikel mengenai introvert kok jangan pada males lu pada, gertak si penulis ini. Berhubung untuk menjaga keorisinalitas dan menghindari plagiarisme maka si penulis ini mencoba untuk mengarang sendiri berdasarkan hasil pengalaman dan pemikiran yang ia alami, jadi kalau dalam bacaan ini bahasanya rancu dan si pembaca jadi bingung, mohon kagak usah protes, baca aja ntar juga ngerti saran si penulis yang terlihat mulai panik. Nah, dari keseluruhan bahasan di atas gue akan lebih mengulik-ulik mengenai introvert, kenapa? karena selain pengalaman diri penulis juga banyaknya paradigma disekitaran gue yang menganggap bahwa orang dengan kepribadian introvert ini dianggap kagak baik. Hmm… benarkah demikian? geram si penulis yang mulai mengelak napasnya sepersekian detik.

Banyak orang yang menganggap bahwa orang introvert itu adalah orang yang sulit berkomunikasi, anti sosial, sulit bergaul dan sulit mendapatkan teman. Well, jujur gue sebenernya bukan tipe orang yang senang ngomong dihadapan banyak orang. Namun bukan berarti gue ga bisa ngomong aka public speaking, ya walaupun public speaking gue bisa dibilang ga bagus-bagus amat, masih kalah sama public speakingnya orang-orang MLM yang lagi ngeprospek orang buat gabung, dahsyaaaatttt……!!!! tapi kalau disuruh ya gue siap! apalagi kalau bisa ditulis dulu dan yang terpenting ada duitnya, mohon pembaca bisa bedain mana serius dan mana becanda!

Selanjutnya, untuk  introvert itu anti sosial gue kurang setuju sih, ya walaupun gue bahagia untuk menghabiskan waktu seharian atau bahkan semingguan penuh diam di rumah mendekam dalam kamar sambil trading forex, maen mobail lejen atau nulis artikel kaya gini tuh bukan berarti gue anti sosial. Karena sometime ketika bosen gue klimaks ya gue juga keluar rumah pergi ke warung misal untuk beli mie gelas, kuaci gopean ama roti keju serebuan, elu tau kan roti keju yang serebuan di warung-warung? itu bohong loh, ngakunya aja roti keju tapi ga bisa buktiin rasa kejunya, sama kaya mantan elu, ngakunya aja sayang tapi ga bisa buktiin rasa sayangnya! loh kok jadi bahas mantan? bebaslah terserah gue sebagai penulis mo nulis apa, lu pembaca kagak usah protes kata si penulis sambil melanjutkan ngetiknya. Di warung pun gue ngobrol sama tukang warungnya, dan di jalan pulang ke rumah terkadang gue juga ketemu tetangga-tetangga untuk sekedar say hello, nanya kabar, sekarang sibuk apa dll, kemudian masuk ke rumah dan kembali lagi mendekam di kamar dan yeah i’m so happy for that and that’s my life! Entah apa pandangan si pembaca tapi jujur gue bahagia dengan siklus hidup leyeh-leyeh kaya gitu. Gue lebih bahagia dengan kesendirian, kesunyian, kesepian daripada keramaian dan kehebohan, karena buat gue lebih rileks, pikiran lebih tenang, ibadah lebih khusyu dan tentu mudah buat gue selalu introspeksi diri gue apa yang salah, apa yang harus gue tingkatkan dan langkah kedepan gue harus ngapain. Apakah diantara pembaca ada yang setipe dengan penulis ? tosss dulu dong kita satu spesies.

photo_2018-05-06_13-27-34

Credit: Maghfirare

Kemudian, anggapan introvert itu sulit bergaul dan mendapatkan teman, hmmm lagi-lagi gue sepenuhnya tidak setuju. Karena gue selama kuliah antara tahun 2013 -2017 gue di kampus punya teman baik seangkatan, senior,maupun junior ya walaupun ga banyak-banyak banget tapi untuk sekedar kenal dan tahu mah udah terpenuhi lah. Selama masa perkuliahan pun gue banyak terlibat interaksi sosial karena gue yakin teori “zoon politicon” yaitu manusia sebagai makhluk sosial yang 100% selama kita hidup di dunia fana ini akan selalu membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup. Nah, cuma yang menjadi permasalahan adalah kadar kesosialan tiap-tiap orang itu menurut gue berbeda-beda, mungkin bagi si A : 70%, si B : 60%, si C : 30% dan tidak mungkin disamaratakan. Kembali lagi ke masa perkuliahan gue, selama kuliah gue memang dikenal cuma dekat dengan beberapa orang saja dan jarang ngumpul-ngumpul dengan teman-teman lain ketika pulang kuliah, karena apa? inilah sense introvert gue bekerja, ya karena gue merasa lebih nyaman, nyambung, punya kesamaan hobby, sifat dll aja yang kalau gue deket ma ni orang nih gue merasa bisa menjadi orang yang lebih baik. Kemudian, perihal ngumpul-ngumpul bareng temen-temen selepas pulang kuliah yang gue yakin 90% mahasiswa/i Indonesia pasti ngelakuin hal ini.

Gue sebenernya kadang ikut ngumpul juga, tapi kebanyakan sih i prefer to skip, why? karena lu pada tau dah kalau cowok-cowok udh pada ngumpul seringnya apa yang dibahas? kalau ga random topic, lawakan kriuk, ngecengin 1 mahasiswa bullyan, dosen killer, cewek-cewek kampus, dan seks, muter-muter aja terus disitu sampai upin-ipin jadi presiden Indonesia. Ya, mungkin sebagian orang-orang yang ngumpul itu bilang “ah lu mh gak asik, kita seru-seruan aja lah, mumpung masih muda”. Yeah, That’s your opinion, but not for me, it’s waste my quality time, daripada ngumpul ngomongin hal-hal ga penting dan ga bermanfaat, mendingan gue cabut diem di perpustakaan atau cari tempat ngadem bersama temen-temen pilihan gue buat sharing pelajaran kuliah sampe ngomongin hal-hal ga penting dan ga bermanfaat?? lha kok?? sama aja bohong lu penulis cabut ngobrol di tempat lain kalau topiknya sama -__-  eh gue kasih tahu satu hal, “as an introvert lu akan lebih mudah blak-blakan kalau lu ngobrol dengan orang yang kiranya lu dengan senang hati dan bisa expect bahwa dia adalah orang yang tepat buat tempat ngobrol atau curhat kita”. Kalau gue lagi ngumpul sama banyak orang gue malah banyakan diem-diem bae terus senyum-senyum kayak orang bego, ya sekedar untuk menghargai kawan-kawan brot n sist lah.

Back to topic, sebagai orang yang dikenal introvert mungkin banyak beranggapan akan susah mempunyai banyak teman, tapi menurut gue introvert itu lebih ke “psychology behaviour” dan masalah punyak banyak atau tidaknya teman itu tergantung sifat dan karakter elu, karena pengalaman gue sebagai introvert akan lebih sangat hati-hati terhadap orang asing/belum kenal bahkan terkesan cuek dan ga peduli, dan gakan nyapa duluan sok asik untuk basa-basi seperti “Halo boss, namanya siapa? darimana? disini rame banget ya bla bla bla…” ya itu sih terserah elu pribadi masing-masing ya dan gue sebagai introvert pun akan meladeni nya ngobrol dan trkadang lama-lama malah makin kenal, nyambung dan nyaman. Terus masalah apa lagi ya, jodoh? hmmmm…. katanya introvert itu susah dapet jodoh ya? tanya si pembaca. Nah, kalau masalah ini gue ga tau nih ca, kata si penulis membalas pertanyaan pembaca, mungkin masih menjadi misteri, tapi yang pasti sebagai cowok, mau elu introvert atau kagak elu tetap harus macho dan jantan dihadapan cewek, kalau suka ya hajar *emot kacamata*. Walaupun gue mempunyai kepribadian introvert seperti hal-hal yang telah dijelaskan di atas, tapi puji syukur gue berhasil menamatkan pendidikan S1 gue dengan sangat memuaskan

Screenshot_1

Biar ga dikira hoax

Yang gue sedikit khawatir saat ini tu justru dimasalah pekerjaan, sebagai fresh graduate yang baru lulus, sampai sekarang gue masih pengangguran guys, ya kali berharap tulisan gue ini dilirik HRD kata si penulis dalam hati. Dilema sebenernya, background pendidikan gue kan hukum, tapi sehari-hari kerjaan gue menganalisa pasar keuangan/valuta asing (trading forex, saham, gold) yg basically harusnya dari ekonomi, terus gue juga saat ini mulai blogging lah semua gue lahap. Itu semua karena sifat gue yang memang ingin mencoba keluar dari “comfort zone” untuk selalu belajar banyak hal, belajar sesuatu hal yang baru, because that’s make me happy bro, seakan-akan hidup gue tuh berguna gitu kan. Well, jujur nyari kerja sekarang tuh memang susah, selain persaingan yang semakin besar juga ruang lingkup untuk mengcover para joobseker ini yang menurut gue kurang terwadahi. Apalagi you know, anggapan bahwa banyak perusahaan yang jika tahu pelamar nya adalah introvert 60%-70% selalu ditolak. Entah darimana desas-desus gosip ini beredar tapi gue pun merasa kayanya ada benarnya. Elu bisa search di google dah kerjaan apa aja yang cocok buat seorang introvert, karena gue ga mau ngopas nya ke sini. Ya, mungkin saja sih karena gue melihat kebanyakan perusahaan saat ini membuka loker nya kalau ga “Marketing Executive”, “Sales Marketing” atau “Account Officer Bank” dll, but sorry to say, no offense buat kerjaan tersebut, bukan gue gasuka atau gimana gitu ya, tapi secara konsepsi kepribadian introvert yang telah dijelaskan sebelumnya, elu sendiri bisa nilailah cocok atau tidak, ya kalau dipaksakan sih mungkin bisa-bisa saja asal orang introvert itu mau berusaha dan perusahaan juga memberikan kesempatan, karena pasti semuanya membutuhkan proses.

Paragrap terakhir nih, langsung gue mau coba ambil kesimpulan deh. Sebagaimana yang dikatakan oleh Carl Jung di tulisan awal gue bahwa dia menganggap bahwa jarang terdapat manusia yang sepenuhnya ekstrovert atau introvert di muka bumi ini. So, gue pribadi pun tidak merasa 100% introvert dan gue yakin temen-temen lain juga demikian. Seorang introvert harusnya mampu menjadi pribadi yang lebih kuat, walaupun identik dengan pendiam dan pemalu namun mempunyai kekuatan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain, dan gue mengatakan bahwa itu adalah quality time terhadap diri lu sendiri, dimana elu bisa merenung dalam kesunyian, merefleksikan dan mengintrospeksi diri dalam doa karena sejatinya musuh terbesar itu adalah ego dan nafsu dan elu harus mengendalikan itu. Seorang introvert dengan kepekaan dalam pemikirannya itu juga harus mampu mengkombinasikan dengan situasi dan kondisi kapan dia harus introvert dan kapan dia harus keluar dari ke-introvert an nya untuk bisa membaur dengan society nya saat ini, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pekerjaan, bukan hanya sekedar untuk menghargai orang lain saja atau peduli terhadap sesama, tapi lebih dari itu yaitu mempresentasikan kita sebagai introvert juga memiliki hidup yang berharga dan sama berharganya dengan kehidupan orang lain yang bukan introvert. So, jangan berkecil hati, just be yourself karena seseorang dengan kepribadian introvert itu unik, dan keunikan itu harus menjadi kelebihan, bukan kelemahan.

Screenshot_2

Kayanya udah ya, cape gue nulis mulu nih jempol gue kesemutan~ Kalau suka like, mau komen, dan share juga silahkan.

Thank you for reading, dan tunggu cerita-cerita menarik gue selanjutnya.

Author: Nugraha Adi Permana, S.H.

Share This Post On

2 Comments

  1. Cara introvert mendapatkan teman : ditemukan ekstrovert, disukai ekstrovert, lalu diadopsi ekstrovert XD Aing introvert juga gan.

    Post a Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: