Dow Theory – Dasar dari Analisa Teknikal Klasik

Halo Traderwan/Traderwati

Apabila anda tertarik untuk mendalami Technical Analysis, ada baiknya anda mempelajari Dow Theory (Teori Dow) terlebih dahulu. Dow Theory bisa dibilang merupakan dasar dari Technical Analysis (Analisa Teknikal). Jadi pastikan anda menguasai ilmu dasarnya dulu sebelum memutuskan untuk belajar lebih jauh mengenai technical analysis. Dow Theory ini sendiri sebenarnya sudah ada sejak 100 tahun yang lalu. Namun dasar dari teori yang dibuat oleh Charles Dow ini masih saja berlaku di market saat ini, termasuk juga forex market. Saya tidak akan menjelaskan latar belakang dan beberapa bagian yang kurang penting mengenai teori ini. Bila anda memang ingin tahu mengenai secara lengkap mengenai Dow Theory, baca saja artikelnya di Stockcharts Chartschool mengenai Dow Theory atau membeli bukunya Martin Pring yang berjudul “technical analysis explained 4th atau 5th edition”. Jadi yang akan saya bahas di sini adalah inti-inti penting dari Dow Theory.  Perkembangan dunia investasi di pasar keuangan dan derivatifnya akhir-akhir ini semakin marak, baik di pasar saham, obligasi, index saham, komoditi berjangka, serta tak ketinggalan pula di pasar valas dan lain-lain. Seiring dengan perkembangan investor dan trader di sektor ini, semakin berkembang pula cara dan sistem yang digunakan dalam upayanya untuk mendapatkan keuntungan, baik secara fundamental maupun teknikal. Di antara sekian banyak pilihan yang ada, pada kesempatan kali ini, kita mencoba menyegarkan kembali tentang Analisa Teknikal Klasik Menggunakan Teori Dow. Bahasan ini semata-mata mencoba untuk menyegarkan kembali tentang salah satu teknik analisa klasik yang telah berkembang sejak lebih dari satu abad yang lalu, di samping itu sebagai upaya untuk menghadirkan pilihan dari sekian banyak pilihan sistem dan teknik trading yang ada. Meskipun pada bahasan sebagian besar menggunkan teori Dow, namun demikian akan ada sedikit penambahan-penambahan. Berikut ini topik-topik bahasannya:

  1. Sekilas Tentang Dow Theory
  2. Performance Dow Theory
  3. Kritik Terhadap Dow Theory
  4. Trend (Kecenderungan) Pergerakan Harga
  5. Phase-Phase Pergerakan Trend
  6. Pergerakan Harga Telah Merefleksikan Segalanya
  7. Keterkaitan Pergerakan Harga Antar Sektor
  8. Hubungan Volume dan Trend
  9. Analisa Puncak dan Lembah Dalam Trend
  10. Trend Naik Vs Trend Turun
  11. Keberlanjutan Trend dan Reversal
  12. Support dan Resisten
  13. Entry Buy dan Entry Sell
  14. Target Take Profit dan Stop Loss

SEKILAS TENTANG TEORI DOW

Dow Theory atau Teori Dow merupakan teori dasar dari analisa teknikal yang pertama kali dipublikasikan oleh Charles H. Dow (1851-1902) di 255 Wall Street Journal, Dow merupakan seorang wartawan sekaligus editor dari Wall Street Jornal serta pendiri Dow Jones and Company. Penelitian pertama Dow dilakukan dengan membagi saham-saham di Wall Street menjadi 2 kelompok, yaitu Industrial Index dan Trasportation Index. Dia mengatakan bahwa perkembangan industri pabrikasi otomatis akan diikuti pula oleh perkembangan industri transportasi, karena pabrik membutuhkan transportasi untuk mendistribusikan barang-barang hasil produksinya.

Berangkat dari asumsi bahwa jika keuntungan di industri transportasi meningkat maka secara tidak langsung menunjukan juga bahwa produksi dari industri pabrikasi dan permintaan dari konsumen meningkat pula yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan laba masing-masing perusahaan. Secara global hal ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat perekonomian suatu negara.

Setelah Dow meninggal dunia ada beberapa orang yang ikut berperan dalam mengembangkan Dow Theory berdasarkan tulisan yang di tulis oleh Dow di Jurnal Wall Street, mereka antara lain adalah William P. Hamilton, Robert Rhea and E. George Schaefer.

Dasar Teori Dow

  1. Pasar memiliki tiga gerakan
  2. Tren memiliki tiga tahap
  3. Pasar saham telah menyerap (discounted) semua berita
  4. Rata-rata pasar saham harus mengkonfirmasi satu sama lain
  5. Tren harus dikonfirmasi oleh volume
  6. Tren diasumsikan berlaku sampai memberikan sinyal yang pasti

Poin-poin diatas digunakan sebagai dasar dalam ilmu Teknikal analisis. Aturan-aturan tersebut dikemukakan oleh Dow dan kemudian disempurnakan oleh para penerusnya.

PERFORMA TEORI DOW

Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa Teknikal Analisis bisa dipakai sebagai salah satu metode untuk membangun portfolio dengan menggunakan market timing. Penelitian sederhana yang dilakukan oleh Norman Fosbeck menunjukkan bahwa “market timing” lebih bagus dalam menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan Buy & Hold. Masalah sederhananya adalah kita harus benar-benar menguasai tekniknya.

Di maanagementfile.com, Arman Boy Manullang menceritakan kisah sukses temannya yang berinvestasi di pasar modal dengan hanya mengandalkan analisa trend dari teori Dow sebagai berikut, “Seorang teman saya semasa kuliah dulu membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada saat harganya terkoreksi ke level Rp 400. Kemudian dia menjual saham BUMI tersebut di harga Rp 3000 pada sekitar bulan September 2009. Satu jenis saham yang dipegang tersebut mengalami kenaikan hingga 650% dalam kurun waktu tidak sampai setahun. Luar biasa bukan? Padahal hanya mengandalkan analisa sederhana dan sedikit keberanian untuk masuk ke saham BUMI saat mengalami tekanan jual yang sangat hebat. Selebihnya, dia hanya sabar menunggu hingga melihat sinyal pembalikan arah terjadi.”

Berikut hasil penelitian Norman fosbeck yang dilakukan dari tahun 1964-1984  

 

 

Penelitian lainnya dilakukan oleh dilakukan oleh Jacquiline Doherty (The Truth About Timing)
dan dipublikasikan di Barrons (November 5,2001)

Lalu penelitian oleh Martin Pring dengan menggunakan metode Dow Theory

– Dengan menginvestasikan $44 pada tahun 1977 dan mengikuti semua signal buy dan sell dari Dow theory, maka pada tahun 198 menghasilkan keuntungan sebesar $18000

-Sementara jika menginvestasikan $44 dan hold portfolionya, maka pada tahun 1981 hanya menghasilkan keuntungan $960.

KRTIK TERHADAP DOW THEORY

Teori Dow tidak bebas dari kritik, sebagai sebuah teori ada kelemahan yang menyertai kelebihannya. Kritik terhadap Dow Theory yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa pada setiap pergerakan market yang trending, rata-rata jika menggunakan teknik ini kita telah ketinggalan hampir 20% dari pergerakan market. Memang pada beberapa kasus belakangan ini sudah dikembangkan metode optimasi agar bisa memperkecil ketertinggalan pergerakan itu. Salah satunya dilakukan dengan memperkecil time frame.

Pada pengembangan Dow theory selanjutnya mulai muncul adanya Elliot Wave Theory yang membagi trend menjadi tiga bagian yaitu wave 1,3, dan 5. Elliot Wave mencoba mengeleminir kelemahan-kelemahan dari Dow Theory. Selain itu untuk sukses menggunakan teori ini adalah mengetahui horizon investasi kita sendiri. Jika target kita adalah untuk waktu yang agak panjang, kita bisa melihat tren major yang terjadi pada saham tersebut. Namun jika target kita adalah harian, tren yang harus kita lihat adalah short swing. Tentu dibutuhkan juga konsistensi dan kesabaran menunggu hingga tren tersebut memberikan arahan yang jelas.

Trend (Kecenderungan) Pergerakan Harga

  1. Phase-Phase Pergerakan Trend

Tren pasar ada 3 fase, yaitu:

  • Akumulasi (accumulation) adalah tahapan dimana investor yang “cerdik” atau sudah mempunyai informasi terlebih dahulu, mengadakan pembelian atau penjualan saham secara perlahan – lahan. Pada tahap ini, harga saham cenderung tidak berubah (sideways trend) karena investor tersebut adalah minoritas sehingga kurang bisa menggerakkan pasar.
  • Fase ke dua adalah dimana investor yang lain mulai menangkap dan mengetahui tindakan investor pada fase pertama tadi. Akhirnya pasar mengikuti tindakan investor pertama untuk membeli atau melepas saham. Pada tahapan ini, terjadi perubahan harga yang sangat drastis karena hampir semua investor sudah melakukan tindakan yang sama. Fase ini berlanjut hingga para pengikut tren (trend follower) dan spekulan sudah mengontrol pergerakan harga saham.
  • Fase ke tiga yaitu dimana investor yang pertama mulai mendistribusikan kepemilikannya ke pasar. Investor mulai menjual atau membeli saham yang dibeli di awal, sebelum pasar melakukan adjustment atau koreksi pada harga. Trend follower yang terlambat melepas sahamnya, biasanya akan menderita loss.

Demikian pula jika diukur dalam kerangka waktu, tiga tipe tren, masing-masing

  1. Major Trend: Merupakan trend jangka panjang dari pergerakan market, biasanya ditentukan dalam kurun waktu minimal 1 tahun

  1. Medium trend: Merupakan kecenderungan pergerakan harga untuk kerangka waktu jangka menengah biasanya antara 2 minggu sampai 3 bulan dan merupakan gerak koreksi dari major trend (tren utama)
  2. Minor trend: Pergerakan harga dalam kurun waktu pendek, biasanya dalam kurun daily dan sebagai gerak koreksi dari medium tren

Kesimpulan globalnya adalah Major trend terbentuk karena adanya gerakan2 dalam medium trend dan minor trend. Dalam konsep wave analysis biasanya disebutkan bahwa wave yang besar terbentuk karena adanya wave2 yang kecil.

Untuk aplikasinya bisa dengan mengunakan peak and through analysis.

  1. Pergerakan Harga Telah Merefleksikan Segalanya (Price Discount Everything)

Menurut Dow, pasar telah mencerminkan semua informasi yang tersedia melalui harga. Harga merupakan akumulasi dari semua hal, ketakutan (fear), harapan (hope) dan ekspektasi dari semua trader. Begitu pula pergerakan tingkat suku bunga, harapan pada pendapatan, proyeksi pendapatan, pemilihan presiden, dan lain-lain semua sudah tergambar pada harga di pasar. Yang belum tergambarkan hanyalah kejadian yang tak terduga, seperti bencana alam, akan tetapi biasanya hal ini akan mempengaruhi tren jangka pendek. Tren utama tidak terpengaruh. Yang paling penting menurut Dow adalah bukan apa yang bisa menyebabkan harga bergerak saat ini tapi reaksi apa yang mungkin terjadi terhadap pergerakan harga saat ini. Semua informasi yang sudah tercermin dalam pergerakan harga sesuai dengan teori difusi informasi. Difusi informasi diilustrasikan pada gambar di bawah ini:

Ilustrasi lain dapat dicontohkan pada saat suatu perusahaan hendak merilis laporan keuangannya, orang-orang yang tahu informasi tentang keadaan perusahan tentu saja orang-orang dalam perusahaan itu sendiri, ketika mengetahui kondisi perusahaan positif, mereka akan memberitahu orang-orang dekatnya untuk membeli saham perusahaan mereka dan harga akan bergerak naik. Kemudian datang orang-orang auditor dan orang-orang pajak, saat mereka tahu kondsi perusahaan tersebut, mereka akan mengambil momentum untuk membeli sahamnya lalu harga akan terus bergerak naik.

Berikunya orang-orang pers mendapatkan informasi tersebut, sebelum jadwal perilisan berita, mereka akan mencoba memanfaatkan informasi yang didapat untuk turut berpartisipasi membeli saham, dan harga semakin naik jauh yang berakibat serta nilai informasi semakin tereduksi.

Ketika berita tersebut dirilis di berbagai media, publik semakin banyak yang tahu, sehingga nilai informasi akan mendekati nol sementara harga masih terus merangkak naik. Dititik ini pembeli pertama mengawali melepas saham yang telah mereka beli untuk memperoleh keuntungan. Akhirnya ketika banyak orang melakukan aksi jual karena harga sudah dianggap tinggi dan profit sudah mereka rasakan cukup, maka harga cenderung akan berbalik turun (reversal) dan nilai informasi sudah benar-benar menjadi nol. (Dikutip dari artikel: The Dow Theory, Speaking The Truth About Technical Analysis, by: Aditya)

Terkadang terjadi anomali di market. Hamilton mencatat bahwa kadang-kadang pasar akan bereaksi negatif terhadap berita baik. Menurut Hamilton, alasannya sederhana: pasar melihat ke depan, pada saat berita akan dirilis. Ini menjelaskan aksioma Wall Street lama, “buy on rumor, sell on news”.

2. Keterkaitan Pergerakan Harga Antar Sektor

Saat teori Dow dikembangkan pada pergantian abad 20 itu, rel kereta api memiliki kaitan penting dalam perekonomian sebagai alat transportasi suplai bahan dari pemasok bahan baku ke produsen (industri) dan sekaligus pula sebagai alat transportasi untuk mendistribusikan hasil produksi. Sebelum General Motors dapat meningkatkan produksi, baja lebih dulu perlu diangkut. Oleh karena itu, peningkatan usaha transportasi sebagai pertanda peningkatan kegiatan usaha industri. Dengan demikian ketika terjadi peningkatan laba usaha yang memicu kenaikan harga saham di sektor transportasi, akan diikuti pula oleh peningkatan yang sama pada sektor industri.

Dow dan Hamilton menekankan bahwa pada tren utama sinyal membeli atau menjual menjadi valid, ketika baik Industrial Average dan Transportions (Rail) Avarage saling mengkonfirmasi satu sama lain. Jika salah satunya membuat “new high atau new low”, maka harus segera diikuti yang lain. Yang demikian ini menjadi sinyal yang valid menurut teori Dow.

Hubungan Volume dan Trend

Dow mengatakan, volume merupakan salah satu komponen penting dalam pergerakan di market, pada trend bullish, seharusnya diikuti pula oleh peningktan volume dan demikian pula ketika terjadi koreksi, seharusnya diikuti oleh penurunan volume.

Volume dalam pergerakan market, menunjukkan partisipasi publik (trader) dan sekaligus juga menggambarkan peningkatan kepercayaan market pada suatu saham ketika terjadi kenaikan harga yang diiringi kenaikan volume pada saham tersebut. Manakala pada trend bullish terjadi penurunan volume, mengindikasikan telah terjadi pelemahan pada trend tersebut dan investor telah bersiap untuk take profit yang bisa membuat gerakan koreksi atau bahkan reversal pada waktu berikutnya.

Selain itu, volume menggambarkan pula kekuatan supply dan demand terhadap suatu saham sebagai cermin dari kekuatan minat beli dan minat jual. Trend naik yang masih diikuti oleh volume yang meningkat atau paling tidak diikuti oleh volume yang stabil, menunjukkan bahwa demand atau minat beli terhadap suatu saham masih lebih banyak.

Namun demikian, Dow mengatakan volume tidak digunakan untuk memprediksi arah trend, tapi digunakan untuk mengkonfirmasi pergerakan harga, “Volume must confirm the trends”. Dia juga mengingatkan bahwa tanpa didukung adanya volume pergerakan volume yang searah dengan tren pergerakan harga, kita tidak harus mempercayai arah gerakan dari market. Bisa disimpulkan bahwa volume bisa digunakan untuk mengukur apakah tren akan berlanjut atau akan berubah.

Mengukur Trend Dengan Volume Pada Pasar Forex

Ada perbedaan dalam hal catatan volume pada pasar forex spot dengan pasar saham dan index saham. Sifatnya yang uncentralized menyebabkan transaksi mata uang di pasar spot mata uang (forex spot) tidak tercatat. Fakta ini menjadi persoalan ketika kita akan menggunakan data volume sebagai salah satu komponen analisa, utamanya untuk mengukur keberlangsungan sebuah trend atau kemungkinan untuk terjadi reversal. Namun demikian kita bisa menggunakan data transaksi mata uang pada pasar mata uang berjangka (forex future).

Jika pada pasar forex spot tidak tersedia data volume transaksi, tidak demikian pada pasar forex future. Semua transaksi pertukaran mata uang USD dengan seluruh mata uang global, di pasar forex berjangka, diselenggarakan oleh Chicago Mercantile Exchange dan diatur serta diawasi oleh lembaga pemerintah AS CFTC (Commodity Future Trade Commision), dan setiap transaksi yang terjadi semuanya wajib dilaporkan, oleh karena itu volume transaksi menjadi tercatat dan dipublikasikan secara berkala (mata uang dalam hal ini sebagai salah satu komoditi yang diperdagangkan).

Untuk mendapatkan data volume transaksi mata uang tersebut bisa diperoleh setiap hari (daily update) dengan mengakses web CME di bagian market data service, lalu pilih volume dan open interest kemudian klik Daily Volume and Open Interest: http://www.cmegroup.com/market-data/…open-interest/. Selain itu jika ingin mendapatkan data volume secara real time, bisa dengan menggunakan platform yang disediakan oleh CME tersebut, tetapi platform ini berbayar. Mereka juga menyediakan free trial selama 2 minggu. Untuk mencoba platform tersebut bisa diakses di sini:http://www.cmegroup.com/market-data/…/overview.html
Perlu diketahui, kita tidak bisa menggunakan data volume pada platform MT4, karena data pada MT4 tersebut, tidak terkecuali broker manapun, tidak mencerminkan volume transaksi yang sesungguhnya.

Menggunakan data volume pada forex sebagai bahan analisa, yaitu dengan melihat convergence dan divergence antara pergerakan harga dan pergerakan volume, ketika pergerakan harga dan pergerakan volume masih convergence maka trend masih akan berlanjut, koreksi atau reversal atau pembalikan arah, baru akan terjadi pada saat terjadi divergency antara pergerakan harga dan pergerakan volume tersebut.

Analisa Puncak dan Lembah Dalam Trend

Analisa puncak dan lembah (Peak and Through) pada dasarnya digunakan untuk tujuan mengetahui trend dan reversal dari pergerakan harga suatu market. Tren tersebut baik tren naik maupun tren turun.

Trend Naik Vs Trend Turun

Tren Naik (Bullish)

Suatu tren dikatakan naik apabila harga selalu mampu melewati puncaknya (peak) atau Higher High dan selalu mampu membentuk puncak (peak) atau Higher High (HH) yang baru dimana puncak (peak) atau Higher High (HH) yang baru tersebut selalu lebih tinggi dari puncak atau Higher High sebelumnya. Kemudian dikuti oleh lembah (through) atau Low yang lebih tinggi dari Low sebelumnya (Higher Low/HL)

Gambar Ilustri trend naik (Bullish).

Tren Turun (Bearish)

Suatu tren dikatakan turun apabila harga selalu mampu melewati lembahnya (through) atau Lower Low (LL) dan selalu mampu membentuk lembah (through) atau Lower Low (LL) yang baru dimana lembah (through) atau Lower Low (LL) yang baru tersebut selalu lebih rendah dari lembah atau Lower Low sebelumnya. Kemudian dikuti oleh puncak (peak) atau High yang lebih rendah dari High sebelumnya (Low High/LH).

Gambar Ilustri trend turun (Bearish) :

Analisa Tend dengan identifikasi puncak / HH dan lembah atau LL ini gunakan sekurang-kurangnya pada TF daily (paling rendah)

Untuk bisa disebut sebagai koreksi atau pembalikan arah pergerakan harga, manakala sebelum terjadinya pembalikan atau koreksi tsb, harga sedang dalam arah pergerakan yang jelas, naik atau turun. Ketika harga pada kondisi sebagaimana yang anda sebut di atas, up and down candle, ini biasanya disebut side ways atau flat, dimana harga bergerak ke samping atau bergerak dalam kisaran. Lalu pada saat harga keluar dari kisaran tersebut, biasanya disebut dengan break out. Untuk mengkonfirmasi valid atau tidaknya break out tersebut salah satunya dengan melihat perubahan volume yang terjadi, jika didukung oleh volume yang meningkat maka dapat dikatakan break out is valid.

TF yang digunakan untuk melihat trend dan reversal minimal pada TF daily. Untuk break out, bergantung di TF berapa kondisi side ways tersebut terjadi, jika terjadi pada TF intraday, misalnya TF H1, maka jika terjadi break out yg dikonfirmasi oleh peningkatan volume, tentunya bisa masuk/entry di TF H1 tsb, tetapi dengan catatan jika break out ke arah yang berlawanan dengan trend pada TF daily, harus exit hari itu juga atau dengan dengan target yang kecil, dan jika harga break out dari harga kisaran sesuai dengan arah trend pada TF daily, maka anda bisa hold posisi atau target bisa ditetapkan lebih besar.

Sekali lagi saya ingatkan, bahwa volume baru merupakan salah satu komponen dari keseluruhan alat analisa menggunakan teori Dow. Akan menjadi lebih komprehensif jika diintegrasikan dengan trend analisis dll, yang akan dibahas berikutnya.

Awal dan Akhir Tren (Reversal)

Awal dan akhir (reversal) dari tren naik (bullish)

Ketika pada tren turun, harga tidak mampu lagi melewati atau break Lower Low (LL) dan kemudian membentuk Low yang lebih tinggi (LH), kemudian diikuti dengan kemampuan harga melewati (break) Lower High dan kemudian membentuk High yang lebih tinggi (HH), maka yang demikian menunjukkan telah terjadi pembalikan pergerakan harga, dan tren baru telah dimulai dari down menjadi up trend (atau bisa juga sebagai bentuk dari awal terjadinya koreksi).

Lalu setelah harga kemudian bergerak up tren (bullish) kemudian pada suatu titik tertentu kemudian harga tidak lagi mampu break Higher High untuk membentuk Higher High yang lebih tinggi, tetapi justru terbentuk High yang lebih rendah dari High sebelumnya atau terbentu Lower High atau High yang lebih rendah dari High sebelumnya (LH), maka up trend telah berakhir, selanjut akan terjadi pembalikan arah pergerakan harga.

Gambar ilustrasi awal dan akhir tren :

Semoga penjelasan di atas, dapat bermanfaat bagi rekan-rekan trader semua

salam profit

Sumber : http://gubuktrader.blogspot.co.id/2012/04/analisa-teknikal-klasik-menggunakan.html

Author: Nugraha Adi Permana, S.H.

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: